Professional betting_Ranking of European Bookmakers_Lottery website

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Platform judi biasa

Selain karena antusias ingin menjadi Wara angkatan pertama kala itu, Lulu dan Herdini mengaku tertantang sekaligus menaruh harapan akan ditanggungnya kehidupan mereka oleh negara, mengingat saat itu perekonomian sedang susah. Terbukti dengan kebutuhan makan dan minum yang tercukupi serta tinggal di asrama yang dikelola pengurus berkebangsaan Jepang. Susu disediakan melimpah agar nutrisi terpenuhi. Kalau ingin camilan, mereka biasa membawa potongan kecil gula aren ke kelas agar nggak ngantuk dan kedinginan. Bahkan pakaian dalam pun bermerek ternama yang merupakan barang mewah kala itu.

Begitu pun dengan Herdini, yang mendapat info tentang penerimaan Wara dari teman-teman kelompok terbang layang di lingkungan TNI AU tentang terbukanya kesempatan menjadi Wara angkatan pertama. Saat itu, Herdini masih kuliah di Fakultas Geografi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Dari informasi tersebut, mereka pun meninggalkan studinya dan mengikuti seleksi penerimaan di Yogyakarta dan Bandung.

Pada saat itu, Lulu dan Herdini menjadi angkatan percobaan untuk membuktikan apakah perempuan bisa menerbangkan pesawat atau nggak. Pengalaman mereka pun nggak semuanya yang manis-manis, banyak momen menegangkan ketika mereka ketakutan karena nggak mulus saat mendaratkan pesawat. Tapi nyatanya, mereka mampu menjadi dua srikandi pilot militer pertama di Indonesia. Karena wanita juga bisa.

Rupanya, jauh sebelum zaman now, sudah ada perintis pilot wanita yang tercatat dalam sejarah penerbangan Indonesia. Bukan, bukan pilot pesawat penumpang, tapi pilot TNI AU yang kala itu juga sempat terlibat dalam operasi militer. Iya, mereka wanita penerbang militer TNI AU pertama di Indonesia. Mereka adalah Lulu Lugiyati dan Herdini Suryanto.

Di era emansipasi seperti sekarang ini, sudah banyak profesi lintas gender yang digeluti para generasi muda. Banyak cowok-cowok yang jadi perancang mode maupun MUA handal, begitu pun cewek-cewek yang nggak lagi jadi pramugari saat bergabung dalam sebuah maskapai penerbangan, melainkan menempati posisi sebagai pilot atau penerbang pesawat itu sendiri.

Setahun kemudian, AURI (sekarang TNI) membuka seleksi Sekolah Penerbang bagi anggota Wara. Dari 30 anggota Wara, ada tiga orang yang mengikuti pendidikan pilot dengan dua di antaranya berhasil lulus sebagai penerbang dan menghadiri pelantikan (wing day), yakni Letnan Dua Pnb Lulu Lugiyati dan Letnan Dua Pnb Herdini. Mereka kemudian menerbangkan pesawat latih Piper Cub yang hanya terbang 10 jam bersama instruktur kemudian langsung dilepas terbang solo. Lulu dan Herdini menjadi perintis keberadaan pilot wanita TNI sejak merdeka tahun 1945.

Karier sebagai pilot militer TNI AU ini bermula ketika mereka melihat potongan iklan surat kabar tentang penerimaan Wara angkatan pertama pada tahun 1963. Lulu yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswi Fakultas Hukum di Universitas Padjajaran, Bandung, langsung mendaftar setelah melihat iklan penerimaan Wara di dinding kampusnya.

Saat itu, ada 30 anggota Wara yang mengikuti pendidikan dasar selama lima bulan di Kaliurang, Yogyakarta. Kemudian dilantik sebagai Letnan Dua atau Letnan Satu tergantung tingkat sarjana muda atau sarjana penuh saat mereka mendaftar.

Herdini yang sering sekali membawa pesawat terbang secara solo dari Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma ke Bandung atau ke Bogor, juga punya kisah yang menegangkan saat mengemudikan pesawat. Pada saat itu, pesawat yang ia kemudikan masih minim teknologi, belum ada alat untuk berkomunikasi dengan tower pusat sehingga masih menggunakan cara manual dengan menggunakan kompas. Namun sebagai jalan pintas, Herdini sering mengikuti alur dari jalan raya, jalur kereta api, dan tanda-tanda alam sebagai penanda untuk menuntun pesawatnya agar selamat sampai tujuan.